Rabu, 28 Desember 2011

Sistem Informasi Pada Restoran Cepat Saji
PIZZA HUT


A. PROFIL SINGKAT PERUSAHAAN
Pizza Hut merupakan salah satu perusahaan waralaba yang berdiri pada tahun 1958, dan dinobatkan sebagai “The Best Company to Work For” di Dallas by D magazine (Januari 2000) serta merupakan perusahaan nomor satu dalam rantai distribusi pizza di Amerika menurut Restaurant & Institutions “2001 Choice in Chains” survey. Pizza Hut dikenal seagai pemimpin pasar dengan penjualan $25 milyar pizza category semenjak tahun 1971. Pizza Hut adalah restoran berantai dan waralaba makanan internasional yang mengkhususkan dalam pizza.
Dari sebuah kedai pizza kecil dan sederhana, Pizza Hut tumbuh menjadi jaringan restoran pizza terbesar di dunia dengan lebih dari 5.600 restoran di 97 negara.

Di Indonesia, Pizza Hut membuka restoran pertamanya tahun 1984 di Gedung Djakarta Theatre, daerah Thamrin, Jakarta. Tahun 2000, restoran Pizza Hut pertama ini dipindahkan ke Gedung Cakrawala di area yang sama, hingga sekarang. Kini, Pizza Hut mempunyai lebih dari 200 restoran yang tersebar di 22 propinsi di Indonesia, dari Aceh hingga Abepura.
Nilai-nilai Organisasi Pizza Hut
Pizza Hut Indonesia menjadikan 4 nilai berikut sebagai dasar dalam menjalankan organisasi, juga dalam membangun relasi dengan pelanggan, mitra usaha dan pemegang saham.
1. Integritas
Kita jujur dalam berpikir dan bekerja, dapat dipercaya, tulus dan bersikap profesional saat berhubungan dengan rekan kerja, pelanggan dan para supplier.
2. Keunggulan
Kita melakukan pekerjaan yang lebih dari sekedar panggilan tugas, melakukan lebih dari apa yang diharapkan orang lain. Kita terus berjuang untuk perbaikan dan teliti dalam segala hal. Jalankan tugas dengan rela dan hadapi segala tantangan yang ada untuk mencapai standar yang tertinggi.
3. PertumbuhanUsaha
Kita akan mengembangkan diri dan memperoleh keuntungan dengan cara menjadi ‘Casual Dining Restaurant’ yang terbaik. Kita berjuang untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan, berbagi keterampilan dan belajar bersama dengan rekan kerja kita, sehingga kita berkembang bersama, baik secara individu maupun organisasi.
4. Keuntungan
Kami selalu berusaha sedapat mungkin memberikan keuntungan kepada para pemegang saham dengan pengawasan dan peningkatan usaha penjualan.
Visi dan Misi PIZZA HUT

• Visi
menjadikan Perusahaan berkembang dengan kerja keras, kerja sama antar karyawan.

• Misi
 semangat dalam bekerja agar mendapatkan hasil yang memuaskan
 melayani customer dengan baik
 Menerima Kritik dari customer agar perusahaan dapat menjadi lebih baik
 openmain terhadap segala hal
Struktur Organisasi
 Manager Area
 Manager Training
 Manager Outlet
 Shift Leader

Hasil kegiatan

Dari pemaparan informaasi singkat diatas maka dapat dikatakan bahwa perusahaan PIZZA HUT telah menggunakan atau mengaplikasikan Sistem Informasi Manajemen dengan begitu jelas sehingga dapat membuat perusahaan ini berkembang begitu pesatnya di berbagai pelosok negara. Oleh karena itu, akan lebih jelasnya perusahaan PIZAA Hut ni di paparkan dengan salah satu Evaluasi SIM sebagai berikut:
Value Chain Assesment

Value chain menggambarkan kegiatan-kegiatan yang mengambil tempat dalam bisnis dan berhubungan mereka untuk analisis kekuatan kompetitif bisnis. Michael Porter menyarankan bahwa kegiatan bisnis dapat dikelompokkan dalam dua:
Primer: mereka yang secara langsung berkaitan dengan menciptakan dan memberikan produk (perakitan komponen misalnya),
sekunder: yang sementara mereka tidak secara langsung terlibat dalam produksi, dapat meningkatkan efektivitas atau efisiensi (misalnya manajemen sumber daya manusia). Hal ini jarang terjadi untuk sebuah bisnis untuk melakukan semua kegiatan utama dan pendukung.

Value Chain Assesment adalah salah satu cara untuk mengidentifikasi kegiatan yang terbaik dilakukan oleh bisnis dan yang terbaik diberikan oleh orang lain
Menghubungkan Analisis Rantai Nilai untuk Keunggulan Kompetitif. Apa yang menjadi aktifitas melakukan bisnis secara langsung terkait untuk mencapai keunggulan kompetitif. Sebagai contoh, sebuah bisnis yang ingin mengungguli kompetitornya melalui membedakan dirinya melalui kualitas yang lebih tinggi harus melakukan kegiatan rantai nilai yang lebih baik daripada oposisi. Sebaliknya, strategi yang didasarkan pada mencari kepemimpinan biaya akan memerlukan pengurangan biaya yang terkait dengan kegiatan rantai nilai, atau penurunan dalam jumlah total sumber daya yang akan digunakan. Dapat di lihat pada gambar berikut di bawah ini terkait Value Chain Assesment.

Di Pizza Hut mempunyai banyak fasilitas yang berbeda di setiap cabangnya yaitu banyaknya meja makan, ukuran tempat atau gedung Pizza Hut tetapi dalam penyajian itu mengutamakan kesamaan rasa dan ke lezatan yang sama dari pusatnya maka ada standar taste. Fasilitas yang utama pada saat ini yaitu sistem order atau pesan makanan melalui hotline khsusus dan akan diantar ke rumah. Sebagai tempat makan yang besar atau dapat juga disebut restorant besar maka Pizza Hut banyak sekali costumer yang datang untuk makan disini, apabila semua tempat penuh maka costumer harus mengisi waiting list dan ini sangat membuang - buang waktu costumer sehingga harus menunggu tempat yang kosong dan harus menahan lapar dengan posisi berdiri.
Langkah langkah dalam value chain assesment di bagi menjadi tiga bagian atas analisisnya yakni:
• Memecah pasar atau organisasi menjadi kegiatan utama dibawah setiap judul utama dalam model
• Menilai potensi untuk menambah nilai melalui keunggulan biaya atau diferensiasi, atau mengidentifikasi kegiatan saat ini dimana bisnis tampaknya pada kerugian kompetitif perusahaan.
• Tentukan strategi dibangun sekitar berfokus pada kegiatan dimana keunggulan komppetitif dapat dipertahankan oleh perusahaan.


Dalam rangka menghadapi kondisi pasar dan persaingan yang selalu dinamis, Pizza Hut menerapkan informasi sistem yang dapat menunjang daya saing, diantaranya berinvestasi pada sistem Point of Sale dan operasi toko secara otomatis serta membuka toko secara on line (www.pizzahut.com) di jaringan internet. Sistem informasi ini dapat digunakan sebagai senjata untuk menjangkau konsumen dimana saja berada, sesuai dengan slogannya yaitu “to be wherever our customer are”, yang pada nantinya tentu saja dapat meningkatkan penerimaan perusahaan.
Berikut adalah konsep-konsep yang dilakukan oleh perusahaan PIZZA HUT terkait evaluasi SIM.
SISTEM INFORMASI
Penjelasan mengenai sistem informasi yang digunakan oleh Pizza hut dapat dijelaskan pada uraian berikut.
Tipe sistem informasi yang digunakan oleh Pizza Hut adalah:
1. Operating Support System

Merupakan suatu sistem yang menghasilkan berbagai produk informasi untuk keperluan internal dan eksternal yang menunjang kegiatan operasi.
Transaction Processing System (TPS)
TPS yang digunakan oleh Pizza Hut adalah Point of Sale (POS) System, yaitu suatu sistem yang menggunakan terminal elektronik cash register untuk menyimpan dan mengirim data entry penjualan pada semua jaringan yang langsung terhubungi dengan komputer pusat dan dapat diproses untuk keperluan cepat atau periodik. Point of Sale adalah bagian yang palng vital dalam proses operasional, transaksi dengan konsumen yang melibatkan interaksi langsung dengan pelanggan dan data base perusahaan secara simultan, kemampuan hardware dan software yang dapat diandalkan merupakan faktor kunci kelangsungan operasional.
Pada prinsipnya sistem operasional Pizza Hut merupakan aliran kerja yang
diterjemahkan secara baku ke dalam proses otomatisasi. Pesanan pelanggan diterima oleh sistem point of sale (order station) yang akan dicatat oleh makaline station sebagai pengumpul data kolektif dari beberapa order station. Kemudian pesanan pelanggan akan diproses langsung oleh kitchen dengan hardcopy document transaksi sebagai perintah kerja. Semua data transaksi akan tersimpan didalam file server, sedangkan driver routing diperlukan sebagai pengawas kegiatan operasional yang akan dipantau langsung oleh headquater melalui jaringan WAN.
2. Management Support System

Merupakan sistem yang dapat menyediakan manager end-user akan suatu produk informasi yang menunjang pengambilan keputusan setiap saat.
a. Management Information System (MIS)
MIS yang digunakan pada Pizza Hut adalah Pizza Hut’s Field Management System yang menyediakan aplikasi yang dapat membantu store manager dalam business forecasting, inventory management dan human resources management. Aplikasi ini akan berupa suatu bentuk pelaporan yang selanjutnya digunakan oleh perusahaan dalam penentuan atau pengambilan keputusan pada sistem penunjang keputusan.
b. Decision Support Sistem (DSS)
DSS menyediakan informasi yang dibutuhkan bagi manager end-user secara interaktif dengan menggunakan berbagai model analisis, simulasi dan lain sebagainya. Bagi Pizza Hut sendiri penggunaan DSS terlihat ketika setiap store manager dapat memonitor performance sistem secara langsung dan interaktif, juga dilengkapi dengan management tool analysis dalam menganalisa business forecasting dan manajemen persediaan.
Penggunaan sistem informasi berbasis komputer (Computer-Based Information System) yang digunakan oleh Pizza Hut untuk mendukung keseluruhan kegiatan perusahaan terlihat pada masing-masing bidang yakni:
Menunjang operasi bisnis dalam hal:
• Melayani transaksi penjualan
• Membantu dalam me-record pembelian pelanggan
• Melacak persediaan
• Membayar gaji karyawan
• Pembelian bahan baku
• Mengevaluasi trend penjualan atau sales performance lainnya

Menunjang Pembuatan Keputusan Manajerial (managerial decision making).
Dengan adanya aplikasi-aplikasi yang dapat digunakan dalam peramalan bisnis, manajemen persediaan dan juga manajemen sumber daya manusia, maka hal-hal tersebut dapat membantu manajer dalam membuat keputusan manajerial yang lebih baik serta memiliki strategic competitive advantage. Misalnya suatu pengambilan keputusan dalam hal pembelian bahan baku, apakah harus ditambah atau tidak dilanjutkan pembeliannya, dimana hal ini nantinya akan terkait dengan pengaturan persediaan sehingga pemborosan biaya tidak terjadi. Selain itu dengan adanya peramalan bisnis maka pihak manajerial dapat mengambil keputusan investasi apa yang memang dibutuhkan saat ini dan di masa yang akan datang.
Secara struktural, proses pembuatan keputusan manajerial terbagi atas beberapa tahap yaitu:
- Identify problems and opportunities
Dalam hal ini Pizza Hut menangkap kesempatan untuk melayani pangsa pasar baru yaitu internet user karena perubahan perilaku konsumen dari offline ke online.
- Help generate and evaluate decision alternative
Aktivitas operasional diterjemahkan ke dalam sistem otomatis, seperti yang dapat dilihat didalam website, pelanggan dapat memilih jenis topping yang disukai. Dengan mengetahui jenis topping yang digemari konsumen saat itu, maka hal ini dapat dijadikan sebagai salah satu cara yang efektif dalam menganalisa keunggulan superior dari suatu produk.
- Select course of action and monitor its implementation
Setelah mengetahui dan menganalisa hal-hal startegis yang mampu menciptakan keunggulan bersaing, maka tahap yang ketiga yaitu menerapkannya pada perusahaan.
Menunjang Keunggulan Strategis (strategic advantage), diantaranya:
• Sistem informasi yang digunakan dapat mendukung misi perusahaan dalam hal 100% customer satisfaction.
• Melalui website-nya (www.pizzahut.com) konsumen dapat mengorder secara online atau mencari restoran Pizza Hut terdekat (dengan fasilitas layanan store finder) dan juga bisa mendapatkan kupon potongan harga secara gratis melalui situs tersebut. Halhal seperti ini dapat menarik pelanggan-pelanggan baru dan menjauhi pelanggan dari restoran kompetitor.
• Melalui sistem informasi, Pizza Hut dapat senantiasa melakukan diferensiasi produk melalui competitive recipes, sehingga dapat selalu melakukan perubahan rasa sesuai dengan perubahan selera pelanggan dan selalu memberikan terobosan baru terhadap terhadap produk-produk Pizza Hut.
• Melalui sistem informasi yang digunakan, maka dapat mempercepat delivery order dalam keadaan panas (fresh from the oven) dengan harga yang wajar (value priced application). Sehingga konsumen dapat langsung merasakan kenikmatan asli dari produk-produk yang ditawarkan oleh Pizza Hut dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama dengan harga yang cukup terjangkau.
• Sistem informasi POS sangat mudah digunakan untuk mendukung kelancaran kegiatan operasional perusahaan (user friendly).

Prosedur Rancangan Sistem Pesan Tempat makan
Sistem aplikasi yang penulis buat ini tentunya memiliki beberapa prosedur
agar berjalan dengan baik tanpa adanya kesalahan. Prosedurnya sebagai berikut :
Prosedur Pendaftaran
Dalam prosedur pendaftaran costumer dapat mendaftar atau registrasi dengan dua cara yaitu dengan cara registrasi online dan registrasi langsung ke Pizza Hutnya.
Prosedur Pemesanan
Untuk prosedur pemesanan, yang di khususkan untuk sekarang hanya member saja, karena nanti pada saat membuka aplikasi Pesan Tempat WAP ini si pengguna wajib login apabila ingin melakukan pemesanan dan harus mengisi kolom user name dan password. User name dan password itu hanya dimiliki oleh member saja. Untuk menjadi member, costumer bisa langsung registrasi online ataupun datang langsung ke pizza hut nya. Setelah dapat login sebagai member maka proses pesan tempat dapat dilakukan dan pada hasil akhirnya member akan mendapatkan sebuah kode pesan yang nantinya bisa untuk mencocokan pada saat datang ke pizza hut nya.
Prosedur Pembatalan
Dalam prosedur pembatalan secara otomatis apabila si member yang telah memesan tempat makan tidak datang 10 menit setelah jam pesan maka dianggap membatalkan pesan dan meja yang telah dipesan bisa aktif kembali statusnya sehingga bisa dipesan kembali oleh member yang lainnya.
Prosedur Pembayaran
Untuk pembayaran member dapat langsung membayar pada saat datang atau sudah selesai menggunakan tempat makan tersebut (selesai makan).
Prosedur Laporan
Untuk prosedur laporan maka petugas wajib melaporkan data - data transaksi itu kepada pemilik restoran dalam jangka tertentu dan secara rutinitas, agar pemilik restoran ini mengetahui transaksi - transaksi apa saja yang sudah terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

 Davis. B. Gordon. 2005. Sistem Informasi Manajemen 2. Edisi Revisi. Indonesia : PPM.
 Anwar, 2003. Sistem Informasi Manajemen. Jakarta : BP. IPWI
 http://www.quickmba.com/strategy/value-chain/
 Nugroho, A. I. 2000. http://indo-cyber.net/a1.php.
 http://www.stmikmj.ac.id/sim1.htm

Senin, 26 Desember 2011

System Development Life Cycle (SDLC)


SDLC (system development live cycle) merupakan sebuah siklus hidup pengembangan sistem yang terdiri dari beberapa tahapan-tahapan yang sangat penting dalam keberadaan perangkat lunak yang dilihat dari segi pengembangannya.
SDLC terdiri dari beberapa tahapan-tahapan berdasarkan analisa kebutuhan yang ada . Dimulai dari analisa kebutuhan perangkat lunak akan dibuat terlebih dahulu desain dari kebutuhan tersebut untuk mempermudah dalam pengerjaannya. Kemudian segala kebutuhan tersebut di implementasikan dengan dua tahap yaitu tahap analisa dan tahap evaluasi (User Acceptance Test). Setelah melakukan implementasi, maka proses tersebut akan dikembalikan kembali ke dalam tahap desain untuk pengembangan kembali perangkat lunak ke versi yang terbaru.
Proses Tahapan SDLC yang paling sering digunakan adalah :
1. Perencanaan: Mempelajari konsep sistem dan permasalahan yang hendak diselesaikan. apakah sistem baru tersebut realistis dalam masalah pembiayaan, waktu, serta perbedaan dengan sistem yang ada sekarang.
2. Analisis Sistem: Menganalisis konsep sistem, permasalahan dan keperluan yang hendak dibuat.
3. Implementasi: Software yang telah diuji dan siap diimplementasikan kedalam sistem pengguna/ sudah siap diterapkan.
4. Maintenance: Sistem yang telah diimplemantasikan serta dapat mengikuti perkembangan dan perubahan apapun yang terjadi guna meraih tujuan penggunaannya.
Diantaranya meliputi :
- corrective yaitu memperbaiki disain dan eror atau kerusakan pada system.
- adaptive yaitu memodifikasi system untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan.
- perfective yaitu ,e;ibatkan system untuk menyelesaikan masalah baru atau mengambil kesempatan (penamahan fitur).
- Preventive yaitu menjaga system dari kemungkinan masalah di masa yang akan dating.

Kegunaan SDLC

Adapun kegunaan utama dari SDLC adalah mengakomodasi beberapa kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan itu biasanya berasal dari kebutuhan pengguna akhir dan juga pengadaan perbaikan sejumlah masalah yang terkait dengan pengembangan perangkat lunak. Kesemua itu dirangkum pada proses SDLC yang dapat berupa penambahan fitur baru (baca : kemampuan penggunaan) baik itu secara modular (baca : instalasi parsial atau update dan upgrade perangkat lunak) maupun dengan proses instalasi baru (baca : penggantian perangkat lunak menyeluruh atau software replacement). Dari proses SDLC juga berapa lama umur sebuah perangkat lunak dapat diperkirakan untuk dipergunakan yang dapat diukur atau disesuaikan dengan kebijakan dukungan (baca : software support) dari pengembang perangkat lunak terkait.

Implementasi SDLC

Secara sederhana proses implementasi SDLC dapat dilihat dari penamaan sebuah perangkat lunak - sebagai contoh berikut :

• Sebuah aplikasi contoh “ABCDE” versi 1.0 {alpha|beta|STABLE|i386|x64}, dapat diartikan bahwa aplikasi contoh “ABCDE” tersebut dipublikasikan dalam tahap awal yang ditandai dengan label versi 1.0 atau biasanya disingkat dengan huruf v1.0. Bila dikemudian waktu label versi menjadi versi 1.2 atau v1.2 maka hal tersebut menandakan bahwa perangkat lunak tersebut telah mengalami revisi (baca : perbaikan) dari versi sebelumnya.

• Penambahan akhiran {alpha|beta|STABLE} menunjukkan status pengembangan perangkat lunak tersebut - dimana yang berakhiran alpha menandakan bahwa perangkat lunak tersebut masih dalam pengembangan dalam tahap yang paling awal sehingga kemungkinan akan adanya kesalahan operasional dari perangkat lunak tersebut (baca : software error) masih akan sering dirasakan, dan masih layak di-uji-coba secara terbatas dalam laboratorium. Yang berakhiran beta menandakan bahwa sebuah perangkat lunak tersebut telah siap dipublikasikan dalam lingkup percobaan pada pengguna akhir sembari pengembang menerima masukan evaluasi dari pengguna secara langsung. Penandaan STABLE menunjukkan bahwa sebuah perangkat lunak telah lulus uji coba laboratorium secara baik dan layak untuk dipergunakan di-lingkungan produksi atau pengguna umum.

• Penambahan akhiran {i386|x64|smp|sparc|ppc} menunjukkan dalam lingkungan komputasi berbasis prosesor apa sebuah perangkat lunak di-kembangkan dan untuk di-operasikan. i386 menunjukkan bahwa sebuah perangkat lunak dikembangkan dan di-operasikan untuk lingkungan komputasi berbasis prosesor sekelas Intel 32-bit. x64 berarti dikembangkan untuk kelas prosesor Intel 64-bit.

Kebutuhan SDLC

Penerapan SDLC yang baik dan benar pada prinsipnya juga membutuhkan biaya baik itu finansial dan non-finansial, baik itu teknis maupun non-teknis yang tidak sedikit. Kesemua hal tersebut wajib diperhitungkan secara cermat agar proses pengembangan perangkat lunak itu sendiritidak terhambat atau bahkan terbengkalai.
Limitasi SDLC
Kadangkala, perkembangan dan penggunaan teknologi antara perangkat keras dan perangkat lunak, dan sesama perangkat lunak tidak sejalan (baca : lebih cepat atau lebih lambat antara satu dengan lainnya, antara mendukung dan tidak mendukung satu dengan lainnya) - sehingga terkadang hasil proses SDLC yang membutuhkan aplikasi pendukung lainnya maupun perangkat keras (yang benar-benar mendukung (baca : perangkat keras baru) agak kesulitan dalam proses penyesuaian (baca : serapan) sehingga dapat menyebabkan proses implementasi SDLC “terkesan” stagnan.

Kesimpulan.

SDLC merupakan siklus hidup pengembangan system atau merupakan proses pembuatan dan pengubahan sistem serta model dan metodologi yang digunakan untuk mengembangkan sistem-sistem tersebut. Konsep ini umumnya merujuk pada sistem komputer atau informasi.
Dalam rekayasa perangkat lunak, konsep SDLC mendasari berbagai jenis metodologi pengembangan perangkat lunak. Metodologi-metodologi ini membentuk suatu kerangka kerja untuk perencanaan dan pengendalian pembuatan sistem informasi, yaitu proses pengembangan perangkat lunak.

Prototype


Prototyping merupakan salah satu metode pengembangan perangat lunak yang banyak digunakan. Dengan metode prototyping ini pengembang dan pelanggan dapat saling berinteraksi selama proses pembuatan sistem. Sering terjadi seorang pelanggan hanya mendefinisikan secara umum apa yangdikehendakinya tanpa menyebutkan secara detal output apa saja yang dibutuhkan, pemrosesan dan data-data apa saja yang dibutuhkan. Sebaliknya disisi pengembang kurang memperhatikan efesiensi algoritma, kemampuan sistem operasi dan interface yang menghubungkan manusia dan komputer.
Untuk mengatasi ketidakserasian antara pelanggan dan pengembang , maka harus dibutuhakan kerjasama yanga baik diantara keduanya sehingga pengembang akan mengetahui dengan benar apa yang diinginkan pelanggan dengan tidak mengesampingkan segi-segi teknis dan pelanggan akan mengetahui proses-proses dalm menyelasaikan sistemyang diinginkan. Dengan demikian akan menghasilkan sistem sesuai dengan jadwal waktu penyelesaian yang telah ditentukan.Kunci agar model prototype ini berhasil dengan baik adalah dengan mendefinisikanaturan-aturan main pada saat awal, yaitu pelanggan dan pengembang harus setuju bahwa prototype dibangun untuk mendefinisikan kebutuhan. Prototype akan dihilangkan sebagian atau seluruhnya dan perangkat lunak aktual aktual direkayasa dengan kualitas danimplementasi yang sudah ditentukandengan cepat. Prototyping juga merupakan sebuah teknik analisa interaktif dimana user terlibat terlibat aktif dalam proses desain layar dan laporan. Kunci utama sebuah prototyping adalah untuk membuat sebuah desain awal dengan cepat, dan disertai perubahan yang bisa jadi radikal serta nantinya akan menghasilkan sebuah umpan balik, terutama dari penggunaan, secara cepat untuk melakukan desain ulang ditahap berikutnya.


Tahapan -Tahapan Prototyping


Tahapan-tahapan dalam Prototyping adalah sebagai berikut:
۞ Pengumpulan kebutuhan : Pelanggan dan pengembang bersama-sama mendefinisikan format seluruh perangkat lunak, mengidentifikasikan semua kebutuhan, dan garis besar sistem yang akan dibuat.
۞ Membangun prototyping : Membangun prototyping dengan membuat perancangan sementara yang berfokus pada penyajian kepada pelanggan (misalnya dengan membuat input dan format output).
۞ Evaluasi protoptyping : Evaluasi ini dilakukan oleh pelanggan apakah prototyping yang sudah dibangun sudah sesuai dengan keinginann pelanggan
۞ Mengkodean sistem : Dalam tahap ini prototyping yang sudah di sepakati diterjemahkan ke dalam bahasa pemrograman yang sesuai.
۞ Menguji sistem : Setelah sistem sudah menjadi suatu perangkat lunak yang siap pakai, harus dites dahulu sebelum digunakan. Pengujian ini dilakukan dengan White Box, Black Box,Basis Path, pengujian arsitektur dan lain-lain.
۞ Evaluasi Sistem : Pelanggan mengevaluasi apakah sistem yang sudah jadi sudah sesuai dengan yang diharapkan .
۞ Menggunakan sistem : Perangkat lunak yang telah diuji dan diterima pelanggan siap untuk digunakan.

Keunggulan dan Kelemahan Prototyping

keunggulan prototyping adalah:

* Adanya komunikasi yang baik antara pengembang dan pelanggan
* Pengembang dapat bekerja lebih baik dalam menentukan kebutuhan pelanggan
* Pelanggan berperan aktif dalam pengembangan sistem
* Lebih menghemat waktu dalam pengembangan sistem
* Penerapan menjadi lebih mudah karena pemakai mengetahui apa yang diharapkannya.

kelemahan prototyping adalah :

* Pelanggan kadang tidak melihat atau menyadari bahwa perangkat lunak yang ada belum mencantumkan kualitas perangkat lunak secara keseluruhan dan juga belummemikirkan kemampuan pemeliharaan untuk jangja waktu lama.
* Pengembang biasanya ingin cepat menyelesaikan proyek. Sehingga menggunakanalgoritma dan bahasa pemrograman yang sederhana untuk membuat prototyping lebih cepat selesai tanpa memikirkan lebih lanjut bahwa program tersebut hanya merupakan cetak biru sistem .
* Hubungan pelanggan dengan komputer yang disediakan mungkin tidak mencerminkan teknik perancangan yang baik.

Proses Rapid Prototyping

Proses rapid prototyping diawali dengan validasi model CAD tiga dimensi suatu produk,langkah ini dilakukan untuk memastikan bentuknya solid. Model yang sudah valid kemudian diorientasikan terhadap ruang pembuatan (partsorientation), dengan mempertimbangkan waktu pembuatan dan kualitas permukaan.Beberapa model dapat digabung menjadi satu bangunan asembly untuk efisiensi penggunaan mesin dan material. Berdasarkan pada persyaratan prosesnya, dukungan struktur dapat ditambahkan ke model jika diperlukan. Setelah validasi, kemudian model dipotong dengan bidang horisontal. Tiap bidang horisontal menghasilkan bidang potong sebagai penentu laser trajectory untuk mengontrol proses sintering atau solidifikasi.Langkah utama untuk proses planning termasuk orientasi, generate struktur pendukung jika diperlukan, slicing dan pemilihan parameterproses.Perencanaan proses dilakukan untuk memilih parameter proses dan pembuatan instruksi kontrol untuk fabrikasi produk. Umumnya desainer menyelesaikan perencanaan proses dengan mempelajari produk dan persyaratan kualitas, yang tentunya sangat memakan waktu.

Alasan menggunakan Prototyping


kebutuhan dan syarat sistem terkadang tidak didefinisikan dengan detail, dikarenakan user hanya mengetahui area bisnis yang memerlukan pengembangan atau prosedur yang memerlukan perubahan, atau user mengetahui apa yang dibutuhkan tetapi merasa tidak cukup mengetahui informasi apa yang terkait. Hal lainnya yaitu situasi dimana pihak pengembang tidak mempunyai informasi yang cukup dan juga pengalaman yang memadai mengenai sistem yang akan dikembangkan,dimana sistem tersebut mempunyai risiko dan pembiayaan yang tinggi, maka dengan prototype akan menyediakan informasi mengenai kemampuan kerja dari konsep yang akan dikembangkan.Kenyataannya, prototype merupakan pilot model, perancangannya berkembang melalui penggunaannya, sehingga didesain agar dapat diubah dengan mudah. Informasi yang diperoleh selaama penggunaan prototype, diaplikasikan pada perubahan rancangan yang kemudian dapat digunakan kembali sebagai prototype untuk menghasilkan informasi rancangan yang bernilai lainnya.

Rapid Aplication Development

Model RAD adalah model proses pembangunan perangkat lunak. RAD menekankan pada siklus pembangunan pendek/singkat/cepat. Waktu yang singkat adalah batasan yang penting untuk model ini. Model RAD dapat dicapai dengan menerapkan :
1. Component based construction ( pemrograman berbasis komponen ).
2. Penekanan pada penggunaan ulang (reuse) komponen perangkat lunak yang telah ada.
3. Pembangkitan kode program otomatis/semi otomatis.
4. Multiple team (banyak tim), tiap tim menyelesaikan satu tugas yang selevel tapi tidak sama. Banyaknya tim tergantung dari area dan kompleksitasnya sistem yang dibangun.
Jika keutuhan yang diinginkan pada tahap analisa kebutuhan telah lengkap dan jelas, maka waktu yang dibutuhkan untuk menyelesakan secara lengkap perangkat lunak yang dibuat adalah berkisar 30 sampai 90 hari.
Sistem dibagi-bagi menjadi beberapa modul dan dikerjakan beberapa tim dalam waktu yang hampir bersamaan dalam waktu yang sudah ditentukan. Model ini melibatkan banyak tim, dan setiap tim mengerjakan tugas yang selevel, namun berbeda sesuai dengan pembagian modul system.
Tujuan utama dari semua metode system development adalah memberikan suatu system yang dapat memenuhi harapan dari para pemakai, akan tetapi sering kali di dalam melakukan pengembangan suatu sistem tidak melibatkan para pemakai system secara langsung, sehingga hal ini menyebabkan sistem informasi yang dibuat jauh dari harapan pemakai yang dapat berakibat sistem tersebut walaupun dapat diterima tetapi para pemakai enggan untuk menggunakannya atau bahkan para pemakai menolak untuk menggunakannya.
Beberapa hal ( kelebihan dan kekurangan ) yang perlu diperhatikan dalam implementasi pengembangan menggunakan model RAD :
1. Model RAD memerlukan sumber daya yang cukup besar, terutama untuk proyek dengan skala besar.
2. Model ini cocok untuk proyek dengan skala besar.
3. Model RAD memerlukan komitmen yang kuat antara pengembang dan pemesan, bahkan keduanya bisa tergabung dalam satu tim
4. Kinerja dari perangkat lunak yang dihasilkan dapat menjadi masalah manakala kebutuhan-kebutuhan diawal proses tidak dapat dimodulkan, sehingga pendekatan dengan model ini kurang bagus.
5.Sistem yang tidak bisa dimodularisasi tidak cocok untuk model ini.
6.Penghalusan dan penggabungan dari beberapa tim di akhir proses sangat diperlukan dan ini memerlukan kerja keras.
7. Proyek bisa gagal karena waktu yang disepakati tidak dipenuhi
8. Resiko teknis yang tinggi juga kurang cocok untuk model ini.

Hanya ada tiga tahapan dalam Rapid Application Development:

•Persyaratan perencanaan

Pada tahap ini, pengembang bertemu dengan koordinator atau manager proyek untuk membuat tujuan-tujuan spesifik dari program yang diinginkanStrategi pembangunan dan alat-alat untuk pembangunan juga diungkapkan dalam proyek tertentu. Untuk organisasi bisnis, tahap ini sangat penting karena diproyeksikan untuk bisnis keprihatinan akan diletakkan untuk pertama kalinya. Semuanya dalam tahap ini adalah teori tetapi akan bekerja sama dengan klien atau perusahaan yang membutuhkan software untuk kebutuhan bisnis mereka.

Pada tahap ini, user dan analyst melakukan semacam pertemuan untuk melakukan identifikasi tujuan dari aplikasi atau system dan melakukan identifikasi kebutuhan informasi untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini hal terpenting adalah adanya keterlibatan dari kedua belah pihak, bukan hanya sekedar persetujuan akan proposal yang sudah dibuat. Untuk lebih jauh lagi, keterlibatan user bukan hanya dari satu tingkatan pada suatu organisasi, melainkan beberapa tingkatan organisasi sehingga informasi yang dibutuhkan untuk masingmasing user dapat terpenuhi dengan baik.
• Desain RAD
Ketika rencana telah ada adalah saatnya untuk mulai membangun rencana. menggunakan alat atau mulai memilih model yang akan digunakan berdasarkan kebutuhan bisnis. RAD memerlukan banyak masukan seperti ini juga memerlukan banyak perangkat lunak Setelah sudah memiliki sekumpulan alat untuk membuat program, pengembang hanya akan perlu pembrifingan terhadap para penggunanya. Dalam proses desain harus melibatkan semuanya baik dari user maupun perancang. Adapun hal terpenting adalah bahwa keterlibatan user sangat diperlukan supaya sistem yang dikembangkan dapat memberikan kepuasan kepada user

•Tahap pelaksanaan

Setelah desain dari sistem yang akan dibuat sudah disetujui baik itu oleh user dan analyst, maka pada tahap ini programmer mengembangkan desain menjadi suatu program. Setelah program selesai baik itu sebagian maupun secara keseluruhan, maka dilakukan proses pengujian terhadap program tersebut apakah terdapat kesalahan atau tidak sebelum diaplikasikan pada suatu organisasi. Pada saat ini maka user bias memberikan tanggapan akan sistem yang sudah dibuat serta persetujuan mengenai sistem tersebut.

Keuntungan RAD

RAD mempunyai keuntungan yang dapat disimpulkan sebagai berikut:
• Sangat berguna dilakukan pada kondisi user tidak memahami
kebutuhankebutuhan apa saja yang digunakan pada proses pengembangan
perangkat lunak.
• RAD mengikuti tahapan pengembangan sistem sepeti umumnya, tetapi
mempunyai kemampuan untuk menggunakan kembali komponen yang ada
(reusable object) sehingga pengembang tidak perlu membuat dari awal lagi
dan waktu lebih singkat berkisar antara 60 hari 90 hari.
• Karena mempunyai kemampuan untuk menggunakan komponen yang sudah
ada dan waktu yang lebih singkat maka membuat biaya menjadi lebih rendah
dalam menggunakan RAD

Kondisi – kondisi yang mempengaruhi RAD

• Kondisi Penunjang terhadap keberhasilan RAD adalah sebagai berikut :
• Sistem RAD semuanya berjalan dengan sendiri tergantung usernya.
• Kinerja dari suatu system bukan factor penting, yang terpenting adalah kerja tim..
• Distribusi produk RAD yang mempunyai ruang lingkup yang sempit.
• Ruang lingkup yang terbatas.
• Kehandalan dari sistem bukan faktor terpenting .
• Membutuhkan teknologi yang tidak terlalu baru (lebih dari 1 tahun ) sehingga tehnologi yang lama masih dipakai.
• Sistem dapat dipecah-pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil atau menjadi subsystem-subsytem .
• Kondisi Penghambat terhadap keberhasilan RAD adalah sebagai berikut :
• Sistem harus dapat berjalan secara bersamaan dengan sistem yang lama otomatis komponen-komponen yang digunakan masih menggunakan yang lama.
• Komponen-komponen penunjang sangat langka untuk didapatkan karena hard ware maupun soft ware masih menggunakan produk lama.
• Dibutuhkan kinerja yang optimal dari pada sisitem tersebut, jika salah satu system tidak optimal maka hancurlah semuanya.
• Apabila digunakan untuk membuat sistem operasi, dimana membutuhkan sistem yang handal. Sistem tidak dapat dipecah-pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil tidak bisa bekerja sendiri-sendiri.
implementasi
Berikut ini Contoh dari pembuatan system menggunakan Rapid Application Develoopment Methodology :
Pembuatan website mcommerce
(mobile commerce) untuk mempermudah proses penyewaan kendaraan mobil pada suatu badan usaha. Pengembangan sistem mcommerce ini menggunakan metode Rapid Application Development (RAD), dengan demikian siklus pembangunan perangkat lunak menjadi lebih pendek atau singkat. Penerapan sistem mcommerce ini menggunakan arsitektur yang berbasis Wireless Application Protocol (WAP) sehingga website dapat diakses dari telepon seluler (ponsel) melalui browser.

KESIMPULAN

Rapid Application Development lebih dari sekedar menyelesaikan aplikasi secepat
mungkin. James Martin yang dimaksudkan sebagai pendekatan mendefinisikan dengan baik
untuk pengembangan aplikasi yang melibatkan, siklus pendek pengembangan berulang
seperti timeboxing, prototyping, dan penggunaan teknologi modern untuk melihat persyaratan kebutuhan secara langsung kemudian ditangkap ke dalam aplikasi yang bekerja
menggunakan generasi kode atau teknologi serupa . Pendekatan ini berlaku sekarang sama
seperti pada tahun 1980an,hanya artinya telah agak tertutup oleh pemasaran modern.

Bussiness process re_enginaring

Business Process Reengineering adalah metode yang mulai digunakan sekitar tahun 1995 oleh para praktisi dan merupakan hal yang paling penting kedua dalam manajemen teknologi informasi. Teknologi Informasi merupakan pendukung utama dalam metode ini. Teknologi Informasi merupakan pengembangan dari teknologi computer yang dipadukan dengan teknologi telekomunikasi.

Menggunakan Teknologi Informasi mempunyai metode dalam cara berpikir, yaitu secara induktif mengembangkan kemampuan untuk mengenali cara solusi yang tepat dan kemudian baru mencari jenis masalah apa yang dapat dipecahkan dengan solusi tersebut. Oleh karena itu Teknologi Informasi sering disebut sebagai disruptive technology karena kemampuannya dalam memecahkan masalah atau mengubah aturan lama yang menghalangi orang untuk melakukan pekerjaannya sehingga Teknologi Informasi sangat penting untuk di- reengineering.

Hubungan antara BPR dengan Teknologi Informasi

Hammer (1990) mempertimbangkan bahwa teknologi informasi adlah kunci dari pelaksanaan BPR yang disebut perubahan radikal. Penggunaan informasi teknologi menantang asumsi dalam proses kerja yang sudah ada sejak lama sebelum penemuan komputewr modern dan teknologi komunikasi. Inti dari rekayasa ulang adalah pengenalan dan dan pembaharuan dalam aturan lama dan asumsi fundamental pokok dalam operasi. Aturan perancangan kerja ini berdasarkan asumsi tentang teknologi, orang, dan tujuan organisasi.
Prinsip dari perancangan ulang (redesign) adalah :
(a) Merorganisir hasil, bukan tugas
(b) Memiliki siapa yang menggunakan output dari performa proses
(c) Memasukkan kerja proses informasi ke dalam kerja yang yang sesungguhnya yang menghasilkan informasi
(d) Memperlakukan sumber daya yang tersebar sebagai sumber daya yang terkumpul
(e) Menghubungkan aktivitas parallel untuk mengintegrasikan hasilnya
(f) Meletakkan titik keputusan dimana kerja dilakukan dan membangun pengawasan dalam proses
(g) Menangkap informasi pada waktu tertentu dan sumber

BPR memerlukan pandangan yang luas baik dari teknologi informasi maupun aktivitas bisnis, dan hubungan diantara mereka. Teknologi informasi seharusnya di tampilkan lebih dari usaha otomatis dan mekanis, dijadikan sebagai hal yang fundamental pembentukan ulang jalur bisnis.
Aktivitas bisnis seharusnya dapat ditampilkan melebihi pengumpulan individe atau tugas fungsional, di dalam tampilan proses untuk efektivitas maksimal. Teknologi informasi dan BPR memiliki hubungan yang berulang-ulang. Kemampuan teknologi informasi sebaiknya dapat mendukung proses bisnis, dan proses bisnis sebaiknya berada dalam batas kemampuan teknologi informasi yang bisa diberikan.
Inovasi membutuhkan teknologi informasi pada perusahaan untuk membangun strukur baru yang dapat mengkoordinasikan segala aktivitas yang tidak memungkinkan sebelumnya. Kordinasi yang itensif dapat mengangkat kemapuan organisasi dan tanggung jawab, dan mengarahkan pasa keuntungan strategi potensial.
APLIKASI BPR PADA PERUSAHAAN
Dapat kita ambil contoh pada perusahaan yang bergerak pada industri minyak bernama Oileap Corp. yang banyak memanfaatkan Teknologi Informasi pada proses distribusi minyak.

Kapabilitas infrastruktur Teknologi Informasi dinilai dengan menggunakan 3 metode pengukuran, yaitu:
• Pelayanan infrastruktur perusahan
Semakin banyak servis yang dilakukan oleh suatu perusahaan maka semakin tinggi kapabilitas infrastruktur firm-wide services dari perusahaan.
• Ketentuan Pelayanan infrastruktur antar fungsional
Merupakan infrastruktur yang bersifat integrative dan mendukung terciptanya arus informasi antara suatu area fungsional dengan area fungsional lainnya. Biasanya servis ini digunakan atau mempengaruhi aplikasi yang digunakan di-dalam perusahaan.
• Jangkauan dan jarak perusahaan
Menunjukkan cakupan bisnis dari firm-wide infrastructure, yaitu menunjukkan servis seperti apa saja yang dapat dilakukan dan kepada siapa servis tersebut dapat dilakukan.

Latar belakang dan Pelaksanaan BPR

Business process Re-design pada perusahaan minyak ini dibagi atas 4 bagian :
• Konteks bisnis
• Perubahan proses
• Kemampuan dan investasi infrastruktur
• Hubungan antara kemampuan infrastruktur dan BPR

(a) Konteks Bisnis
Penggerak bisnis perusahaan ini dilakukan melalui penyediaan pelayanan mobile-customer, merespon segala tahapan dari value-chain, karakteristik tersendiri pada kualitas dan pelayanan. Sedangkan motivasi untuk BPR sendiri antara lain untuk kebutuhan yang berkelanjutan demi pengurangan biaya, penambahan keuntungan secara drastis setelah pelaksanaan, pemikiran ulang terhadap inti bisnis, dan mendongkrak investasi infrastrukur.

(b) Perubahan proses
Proses yang dilibatkan dalam BPR ini antara lain pelayanan financial, pengelolaan investasi, pengembangan system, dan implementasi semua proses baru berdasarkan peta proses yang detail. Dan pengaruhnya pada bisnis antaralain; pengembangan pelayanan berdasarkan pemasukan secara cepat, percepatan pengembangan system informasi bisnis, serta kesempatan bisnis yang baru. Jangka perubahan berkisar antara 2 tahun.

(c)Kemampuan dan investasi infrastruktur
Bagian ini mencakup investasi infrastruktur utama melalui pembaruan segala system selama 1 tahun, pemberlakuan DBMS yang umum, meningkatkan telekomunikasi, pendukung pelayanan untuk pengambangan system baru, dan system manajemen proyek yang umum digunakan. Jumlah pelayanan pada tingkat tinggi dan terdapat 7 pelayanan antar fungsional dengan jangkauan dan jarak yang tinggi.

(d) Hubungan antara kemampuan infrastruktur dan BPR
Hubungan antara kempuan infrastruktur dan BPR ditunjukkan dari peranan infrastruktur yang memasukkan infrastruktur teknologi informasi baru dan mendongkrak perubahan proses dari kemampuan infrastruktur. Sedangkan pengaruh dari teknologi informasi terhadap kemampuan infrastrutur yaitu sangat memungkinkan dimana perubahan bisnis dimanfaatkan dalam kemampuan infrastruktur.

Hasil dan Kesimpulan
Dari hasil analisis, penerapan BPR pada perusahaan minyak ini menunjukkan bahwa infrastruktur teknologi informasi menyediakan kerangka dasar dalam menstimulasi dan memungkinkan implementasi proses bisnis baru yang radikal.

Dari analisa perusahaan ini didapatkan hasil sebagai berikut:
1. Perusahaan ini memiliki kemampuan infrastrukur yang mengikuti implementasi BPR. Hal ini dikarenakan perusahaan telah memiliki infrastruktur-infrastruktur penting seperti communication network.
2. Perusahaan ini memiliki pengalaman dalam menciptakan kemampuan lintas batas fungsional. Hal ini sangat membantu, karena BPR memiliki sifat dasar cross-functional.
3. Jarak infrastruktus yang melintasi batas unit bisnis sangat diperlukan dalam BPR. Perusahaan yang sukses dalam mengimplementasikan BPR adalah perusahaan yang memiliki infrastruktur yang dapat membantu dalam melaksanakan transaksi yang rumit antara suatu unit bisnis dengan unit bisnis lainnya.
4. Penyederhanaan proses memerlukan sedikit kemampuan infrastruktur karena perubahan proses terbatas dalam suatu lingkup. Hal ini dikarenakan dari data yang diperoleh, simplifikasi yang terjadi pada BPR hanya membutuhkan tipe data dan aplikasi yang tidak terlalu banyak yang mengakibatkan infrastruktur yang dibutuhkan tidak terlalu banyak pula.
5. Inovasi padaproses memerlukan lebih banyak kemampuan infrastruktur karena perubahan proses lebih meresap antar perusahaan. Hal ini dikarenakan diperlukan data dan aplikasi yang lebih banyak.
6. Kemampuan infrastruktur memliki pengaruh pada keberhasilan implementasi BPR. Dari data yang didapatkan, perusahaan ini tidak mengalami kesulitan dalam mengimplementasikan BPR karena memiliki kapabilitas infrastruktur yang lebih lengkap. Selain itu kapabilitas infrastruktur yang dimiliki telah dapat mendukung dalam menciptakan bisnis proses baru yang radikal.
7. Kapabilitas infrastruktur TI yang semakin baik memungkinkan terjadinya implementasi BPR yang semakin baik pula.

Implementasi computer assisted industruction (CAI) untuk pembelajaran data manipulation language pada model basis data jaringan (NETWORK MODEL)
Benny Santoso


Jurusan informatika Fakultas Teknik Universitas Surabaya
Email:us613@fox.ubaya.ac.id
ABSTRACT
Salah satu model basis data yang cukup di kenal adalah model basis data jaringan (network model). Akan tetapi , DBMS yang menggunakan sistem ini jarang ditemui. Oleh karena itu, perlu dibuat sistem sederhana yang bisa digunakan untuk membantu mempelajari data manipulation Language(DML). Dengan adanya perangkat lunak ini, pemakai bisa mempelajari hasil dari perintah DML tertentu.
Perangkat lunak ini tidak meliputi Data Definition language(DDL)jadi data yang digunakan adalah data yang sudah ditentukan sejak awal.
Uji coba dari CAI ini dilakukan dikelas, dan hasilnya menunjukkan bahwa CAI ini banyak membantu orang yang akan mempelajari DML dari Network Model
Keywords:CAI Network Data Model, Data Manipulation Language.

ANALISIS

Network Data Model menggunakan data dalam bentuk sekumpulan record sedangkan relasi antar data disebut link ( pointer). Network data mempunyai dua komponen utama yaitu record dan set. Record adalah kumpulan data yang saling berhubungan. Record type menggambarkan struktur data dari sebuah record yang meliputi atribut-atribut yang membangun sebuah record dan type datanya masing-masing. Sedangkan Set type melambangkan relasi antar record type. Sebuah set type biasanya terdiri dari nama set type, owner record, dan member record type.
Data Manipulation Language (DML) merupakan bahasa basis data yang digunakan untuk memanipulasi network data base, seperti mencari dan mendapatkan record dari basis data, menyisipkan, menghapus, dan memodifikasi record, menghubungkan dan memutuskan hubungan record. Perintah DML dibagi tiga yaitu
• Retrevial ( Get data ) digunakan untuk mengambil record yang sedang ditunjuk.
• Navigation ( Find data ) digunakan untuk mendapatkan record tertentu.
• Update digunakan untuk melakukan update terhadap record dan set tertentu.
Computer Aided Instruction ( CAI ) adalah salah satu metode pengajaran yang digunakan untuk membantu mengajar materi dalam sebuah program tutorial dengan menggunakan sebuah aplikasi komputer. Dalam menyajikan pelajaran, perangkat lunak CAI dapat mengontrol berbagai proses, seperti penyajian materi untuk dibaca dan dipelajari, memberikan petunjuk dan latihan, memberikan pertanyaan dan penilaian terhadap hasil belajar. Salah satu bentuk CAI dimana maetode pengajaran dilakukan dengan memberikan latihan yang berulang-ulang. Pendekatan ini menekankan dengan menghafal tanpa memberikan kemampuan untuk memahaminya, atau dikenal dengan pendekatan rote memory dimana ingatan manusia dilatih dengan memberikan latihan terus-menerus sehingga materi akan tertanam diotak. Metode ini sangat cocok untuk metode pendidikan dasar.
Pada model network ini sebelum bisa membuat alat bantu DML, terlebih dahulu dilakukan analisis mengenai kebutuhan dari pengajaran DML ini, setelah itu akan diberikan perancangan dari data yang akan digunakan.
Pada sistem ini terdapat 5 jenis data, yaitu
• Data materi, berupa kumpulan materi yang akan ditampilakan kepada pemakai untuk membaca teori yang diinginkan.
• Data contoh soal, yaitu contoh perintah DML yang bisa digunakan.
• Data latihan soal, yang disimpan harus sesuai dengan set yang sudah dibuat terlebih dahulu.
• Data table parser.
• Data kesalahan pada compiler, berupa daftar kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi pada proses kompilasi, dimana kesalahan bisa terjadi pada tahap scanner maupun interprener.

REENGINEERING PROSES BISNIS DAN IMPLIKASINYA TERHADAP STRATEGI TRANSFORMASI PERUSAHAAN
DAN FUNGSI SUMBER DAYA MANUSIA

oleh:

Lena Ellitan dan Lina Anatan
Fakultas Ekonomi Universitas Katholik Widya Mandala Surabaya
Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Maranatha Bandung
Abstract:

Pesatnya perkembangan teknologi, pergeseran demografi, fluktuasi ekonomi, dan kondisi dinamis menyebabkan lingkungan bisnis menjadi penuh ketidakpastian, semakin kompleks, dan cepat berubah. Menghadapi kondisi tersebut, setiap organisasi dituntut untuk segera berubah atau melaksanakan transformasi dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang makin kompetitif melalui reengineering. Reengineering adalah pemikiran ulang fundamental dan perancangan ulang yang radikal terhadap proses-proses bisnis organisasi yang membawa organisasi mencapai peningkatan dramatis dalam kinerja bisnis. Proses transformasi dilakukan melalui pelaksanaan transformasi organisasi dan transformasi sumber daya manusia. Transformasi organisasi dilaksanakan agar organisasi menjadi fleksibel, kreatif, dan efisien. Sedangkan transformasi fungsi SDM dimaksudkan agar menghasilkan SDM yang memiliki kapabilitas untuk turut berpartisipasi dalam proses perubahan organisasi.
Kata Kunci: reengeneering, transformasi perusahaan, fungsi SDM

Analisis

REKAYASA ULANG (REENGINEERING)
Reengineering atau rekayasa ulang adalah perancangan ulang secara pada proses bisnis yang berjalan saat ini dengan penekanan pada pengurangan biaya dan waktu siklus agar terjadi peningkatan kepuasan pelanggan. Rakayasa ulang sangat mungkin dilakukan karena kebanyakan dalam organisasi terdapat sekat-sekat departemen dan unit kerja, tidak ada kepemilikan proses secara individu, dan kadang diluar kendali. Akibat hal-hal tersebut, biaya dan waktu siklus menjadi buruk dan berakibat pada rendahnya kepuasan pelanggan. Dengan demikian, rekayasa ulang akan menjadi solusi yang saling menguntungkan antara organisasi dan pelanggan.
Rekayasa ulang dapat membuat perbaikan proses bisnis secara dramatik terkadang terjadi pengurangan pembiayaan, reduksi waktu siklus, dan peningkatan kepuasan pelanggan secara signifikan. Korporasi melakukan rekayasa ulang proses bisnisnya ketika menginginkan perubahan yang dramatis dalam cara menjalankan bisnisnya atau ketika cara yang dijalankan saat ini tidak sesuai dengan harapan. Pada umumnya banyak proses bisnis yang sangat rumit dan hanya beberapa orang dalam organisasi yang benar-benar memahami dan dapat menjalankan proses tersebut. Untuk itulah rekayasa ulang menjadi penting agar terjadi penyederhanaan proses yang akan berimplikasi pada penghematan waktu dan biaya. Hal ini juga menjadikan mengapa rekayasa ulang ini dapat meingkatkan kualitas kerja karena setiap staf mampu menyelesaikan segala sesuatu dengan cara yang lebih baik. Sebagai tambahan, rekayasa ulang akan menjadikan korporasi lebih fleksibel untuk merespon kejadian yang tidak diinginkan dalam lingkungan bisnis yang berubah cepat melalui edukasi staf.
Saat manager memodifikasi aturan-aturan bisnis untuk mencapai keefektifan dan komposisi yang lebih besar, perangkat lunak harus tetap berjalan maju. Artinya penciptaan sistem berbasis komputer yang besar berarti memodifikasi dan atau membangun aplikasi yang sudah ada sehingga menjadi kompeten untuk memenuhi kebutuhan bisnis pada masa yang akan datang.
Langkah pertama dalam pelaksanaan rekayasa ulang adalah menentukan apakah rekayasa ulang memang dibutuhkan oleh organisasi. Manajemen puncak butuh memahami terlebih dahulu pengetahuan tentang rekayasa ulang baik melalui pelatihan maupun menggunakan konsultan. Hal ini dilakukan agar terdapat kepastian bahwa organisasi memang membutuhkan rekayasa ulang. Jika manajemen puncak melihat bahwa rekayasa ulang adalah penting untuk dilakukan, maka langkah berikutnya adalah membangun komitmen untuk menjalankan rekayasa ulang dengan benar. Pada langkah ini akan banyak ditemuai hambatan dan penolakan dari berbagai pihak. Langkah ini penting untuk terjadinya keterlibatan semua pihak dalam perubahan nyata dalam organisasi. Langkah berikutnya adalah menentukan apakah akan menggunakan konsultan dari luar atau akan menggunakan staf berbakat yang dimiliki untuk menjalankan rekayasa ulang. Jika menggunakan staf internal, maka harus dipastikan team yang terbentuk dilakukan melalui seleksi yang baik, dan team diberi pelatihan yang cukup tentang rekayasa ulang. Sebaliknya, jika korporasi memutuskan menggunakan konsultan, maka tetap tema internal harus dilibatkan berbartisipasi dalam team rekayasa ulang dengan konsultan.
Dalam korporasi yang telah berkomitmen untuk melakukan rekayasa ulang, keputusan untuk memilih proses bisnis apa yang akan direkayasa akan bervariasi yang terganting pada situasi organisasi. Ada dua situasi yang saling kontras untuk menentukan proses bisnis yang akan direkayasa ulang. Ketika organisasi mempertimbangkan bahwa organisasi akan keluar dari bisnis saat ini jika tidak melakukan rekayasa secara drastis. Dalam situasi ini pilihannya adalah lakukan atau tidak sama sekali (yang artinya berhenti dalam bisnis saat ini). Pada sisi ekstrim lain, ketika organisasi merasa bahwa rekayasa ulang cukup rasional namun perlu dilihat terlebih dahulu pada satu proses dan rekayasa ulang dilakukan dengan baik pada proses tersebut. Pada waktu yang akan datang, baru rekayasa ulang dilakukan kembali pada satu atau dua proses bisnis yang lain.
Ada beberapa fase rekayasa ulang proses bisnis yang telah di uji coba beberapa kali dan mendapatkan hasil yang cukup memuaskan, salah satu contoh yakni dalam bidang sumber daya manusia (SDM) Rekayasa ulang hanya dapat berjalan dengan baik ketika orang-orang di semua level dalam organisasi diperhatikan dan dilibatkan. Team perlu diberdayakan, dan team antar fungsi (cross-functional) perlu bekerja semua dalam isu rekayasa ulang ini.

PENGARUH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI
INFORMASI TERHADAP BIDANG
AKUNTANSI MANAJEMEN
Sri Maharsi
Dosen Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi – Universitas Kristen Petra
ABSTRAK
Perkembangan teknologi informasi membawa perubahan yang
signifikan dalam dunia bisnis. Ada berbagai macam sistem informasi
dengan menggunakan teknologi informasi yang muncul, antara lain
Electronic Data Processing Systems, Data Processing Systems (DPS),
Decision Support System (DSS), Management Information System (MIS),
Executive Information Systems (EIS), Expert System (ES) dan Accounting
Information System (AIS). Perkembangan teknologi informasi juga
berpengaruh terhadap bidang akuntansi manajemen selaku bidang
penghasil informasi dalam rangka perencanaan, pengendalian dan
pengambilan keputusan manajemen. Pengaruh tersebut dapat bersifat
menguntungkan maupun merugikan perusahaan.
Kata kunci: teknologi informasi, akuntansi manajemen, informasi,
pengambilan keputusan.
Analisis
Seiring perkembangan teknologi pada zaman seperti sekarang ini, memudahkan manusia untuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Perkembangan teknologi seperti komputer . pada awalnya komputer digunakan layaknya menghitung , tetapi sekarang lebih dikembangkan kembali bahwasanya komputer bukan hanya mesin penghitung tapi juga sebagai mesin yang dapat memproses data.
Perkembangan teknologi seperti ini pada era globalisasi memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap manusia khusunya dalam bidang akuntansi, karena teknologi informasi yang berasal dari perpaduan teknologi dan komunikasi inimembawa dampak besar pada perkembangan dalam paradigma maupun pada teknologi manufaktur
Dapat dicontohkan salah satu teknologi informasi yang muncul yakni Sistem Informasi Akuntansi (SIA) yang mana sistem informasi ini memproses input sehingga menghasilkan output untuk mencapai tujuan khusus manajemen. Sistem informasi akuntansi manajemen mempunyai tiga tujuan utama, yaitu
(1)untuk menyediakan informasi yang digunakan dalam perhitungan biaya jasa,
produk dan tujuan lain yang diinginkan manajemen,
(2) untuk menyediakaninformasi yang digunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan yang berkesinambungan, serta
(3) untuk menyediakan informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan
(Hansen, 2000).

Walau demikian terdapat pula banyak masalah maslah yang timbul disebabkan perkembangan teknologi. Berikut adalah masalah-masalh dan juga cara mengatasinya:
· memerlukan biaya yang besar.
· Pengembangan teknologi informasi tidak hanya membutuhkan pengetahuan dan
· kemampuan teknis di bidang akuntansi saja, tetapi pengetahuan tentang
teknologi informasi juga harus dikembangkan.
· informasi yang diterapkan tersebut harus acceptable, artinya dapat diterima oleh semua orang yang akan menggunakannya.
· Memungkinkan munculnya kejahatan-kejahatan teknologi informasi.

· Dari beberapa permasalahan diatas, maka setidaknya penulis mencoba untuk memberikan bagaimana cara menanggulangi permasalahan-permasalahan tersebut seperti halnya :
· Komunikasi : komunikasi sangat dibutuhkan dalam sebuah organisasi agar tercapai tujuan yang diharapkan, dengan komunikasi pula dapat melibatkan para pekerja dalam suatu pekerjaan yang dapat menumbuhkan kerjasama di antaranya.
· Program pengetahuan: memberikanpengetahuan yang dapat memicu semangat pekerja lebih giat lagi, dalam artian bahwa para pekerjapun masih dibutuhkan walau sudah ada perkembangan teknologi yang pesat
· Kebijakan baru, :kebijakan ini sebagai payokan kerja