System Development Life Cycle (SDLC)
SDLC (system development live cycle) merupakan sebuah siklus hidup pengembangan sistem yang terdiri dari beberapa tahapan-tahapan yang sangat penting dalam keberadaan perangkat lunak yang dilihat dari segi pengembangannya.
SDLC terdiri dari beberapa tahapan-tahapan berdasarkan analisa kebutuhan yang ada . Dimulai dari analisa kebutuhan perangkat lunak akan dibuat terlebih dahulu desain dari kebutuhan tersebut untuk mempermudah dalam pengerjaannya. Kemudian segala kebutuhan tersebut di implementasikan dengan dua tahap yaitu tahap analisa dan tahap evaluasi (User Acceptance Test). Setelah melakukan implementasi, maka proses tersebut akan dikembalikan kembali ke dalam tahap desain untuk pengembangan kembali perangkat lunak ke versi yang terbaru.
Proses Tahapan SDLC yang paling sering digunakan adalah :
1. Perencanaan: Mempelajari konsep sistem dan permasalahan yang hendak diselesaikan. apakah sistem baru tersebut realistis dalam masalah pembiayaan, waktu, serta perbedaan dengan sistem yang ada sekarang.
2. Analisis Sistem: Menganalisis konsep sistem, permasalahan dan keperluan yang hendak dibuat.
3. Implementasi: Software yang telah diuji dan siap diimplementasikan kedalam sistem pengguna/ sudah siap diterapkan.
4. Maintenance: Sistem yang telah diimplemantasikan serta dapat mengikuti perkembangan dan perubahan apapun yang terjadi guna meraih tujuan penggunaannya.
Diantaranya meliputi :
- corrective yaitu memperbaiki disain dan eror atau kerusakan pada system.
- adaptive yaitu memodifikasi system untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan.
- perfective yaitu ,e;ibatkan system untuk menyelesaikan masalah baru atau mengambil kesempatan (penamahan fitur).
- Preventive yaitu menjaga system dari kemungkinan masalah di masa yang akan dating.
Kegunaan SDLC
Adapun kegunaan utama dari SDLC adalah mengakomodasi beberapa kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan itu biasanya berasal dari kebutuhan pengguna akhir dan juga pengadaan perbaikan sejumlah masalah yang terkait dengan pengembangan perangkat lunak. Kesemua itu dirangkum pada proses SDLC yang dapat berupa penambahan fitur baru (baca : kemampuan penggunaan) baik itu secara modular (baca : instalasi parsial atau update dan upgrade perangkat lunak) maupun dengan proses instalasi baru (baca : penggantian perangkat lunak menyeluruh atau software replacement). Dari proses SDLC juga berapa lama umur sebuah perangkat lunak dapat diperkirakan untuk dipergunakan yang dapat diukur atau disesuaikan dengan kebijakan dukungan (baca : software support) dari pengembang perangkat lunak terkait.
Implementasi SDLC
Secara sederhana proses implementasi SDLC dapat dilihat dari penamaan sebuah perangkat lunak - sebagai contoh berikut :
• Sebuah aplikasi contoh “ABCDE” versi 1.0 {alpha|beta|STABLE|i386|x64}, dapat diartikan bahwa aplikasi contoh “ABCDE” tersebut dipublikasikan dalam tahap awal yang ditandai dengan label versi 1.0 atau biasanya disingkat dengan huruf v1.0. Bila dikemudian waktu label versi menjadi versi 1.2 atau v1.2 maka hal tersebut menandakan bahwa perangkat lunak tersebut telah mengalami revisi (baca : perbaikan) dari versi sebelumnya.
• Penambahan akhiran {alpha|beta|STABLE} menunjukkan status pengembangan perangkat lunak tersebut - dimana yang berakhiran alpha menandakan bahwa perangkat lunak tersebut masih dalam pengembangan dalam tahap yang paling awal sehingga kemungkinan akan adanya kesalahan operasional dari perangkat lunak tersebut (baca : software error) masih akan sering dirasakan, dan masih layak di-uji-coba secara terbatas dalam laboratorium. Yang berakhiran beta menandakan bahwa sebuah perangkat lunak tersebut telah siap dipublikasikan dalam lingkup percobaan pada pengguna akhir sembari pengembang menerima masukan evaluasi dari pengguna secara langsung. Penandaan STABLE menunjukkan bahwa sebuah perangkat lunak telah lulus uji coba laboratorium secara baik dan layak untuk dipergunakan di-lingkungan produksi atau pengguna umum.
• Penambahan akhiran {i386|x64|smp|sparc|ppc} menunjukkan dalam lingkungan komputasi berbasis prosesor apa sebuah perangkat lunak di-kembangkan dan untuk di-operasikan. i386 menunjukkan bahwa sebuah perangkat lunak dikembangkan dan di-operasikan untuk lingkungan komputasi berbasis prosesor sekelas Intel 32-bit. x64 berarti dikembangkan untuk kelas prosesor Intel 64-bit.
Kebutuhan SDLC
Penerapan SDLC yang baik dan benar pada prinsipnya juga membutuhkan biaya baik itu finansial dan non-finansial, baik itu teknis maupun non-teknis yang tidak sedikit. Kesemua hal tersebut wajib diperhitungkan secara cermat agar proses pengembangan perangkat lunak itu sendiritidak terhambat atau bahkan terbengkalai.
Limitasi SDLC
Kadangkala, perkembangan dan penggunaan teknologi antara perangkat keras dan perangkat lunak, dan sesama perangkat lunak tidak sejalan (baca : lebih cepat atau lebih lambat antara satu dengan lainnya, antara mendukung dan tidak mendukung satu dengan lainnya) - sehingga terkadang hasil proses SDLC yang membutuhkan aplikasi pendukung lainnya maupun perangkat keras (yang benar-benar mendukung (baca : perangkat keras baru) agak kesulitan dalam proses penyesuaian (baca : serapan) sehingga dapat menyebabkan proses implementasi SDLC “terkesan” stagnan.
Kesimpulan.
SDLC merupakan siklus hidup pengembangan system atau merupakan proses pembuatan dan pengubahan sistem serta model dan metodologi yang digunakan untuk mengembangkan sistem-sistem tersebut. Konsep ini umumnya merujuk pada sistem komputer atau informasi.
Dalam rekayasa perangkat lunak, konsep SDLC mendasari berbagai jenis metodologi pengembangan perangkat lunak. Metodologi-metodologi ini membentuk suatu kerangka kerja untuk perencanaan dan pengendalian pembuatan sistem informasi, yaitu proses pengembangan perangkat lunak.
Prototype
Prototyping merupakan salah satu metode pengembangan perangat lunak yang banyak digunakan. Dengan metode prototyping ini pengembang dan pelanggan dapat saling berinteraksi selama proses pembuatan sistem. Sering terjadi seorang pelanggan hanya mendefinisikan secara umum apa yangdikehendakinya tanpa menyebutkan secara detal output apa saja yang dibutuhkan, pemrosesan dan data-data apa saja yang dibutuhkan. Sebaliknya disisi pengembang kurang memperhatikan efesiensi algoritma, kemampuan sistem operasi dan interface yang menghubungkan manusia dan komputer.
Untuk mengatasi ketidakserasian antara pelanggan dan pengembang , maka harus dibutuhakan kerjasama yanga baik diantara keduanya sehingga pengembang akan mengetahui dengan benar apa yang diinginkan pelanggan dengan tidak mengesampingkan segi-segi teknis dan pelanggan akan mengetahui proses-proses dalm menyelasaikan sistemyang diinginkan. Dengan demikian akan menghasilkan sistem sesuai dengan jadwal waktu penyelesaian yang telah ditentukan.Kunci agar model prototype ini berhasil dengan baik adalah dengan mendefinisikanaturan-aturan main pada saat awal, yaitu pelanggan dan pengembang harus setuju bahwa prototype dibangun untuk mendefinisikan kebutuhan. Prototype akan dihilangkan sebagian atau seluruhnya dan perangkat lunak aktual aktual direkayasa dengan kualitas danimplementasi yang sudah ditentukandengan cepat. Prototyping juga merupakan sebuah teknik analisa interaktif dimana user terlibat terlibat aktif dalam proses desain layar dan laporan. Kunci utama sebuah prototyping adalah untuk membuat sebuah desain awal dengan cepat, dan disertai perubahan yang bisa jadi radikal serta nantinya akan menghasilkan sebuah umpan balik, terutama dari penggunaan, secara cepat untuk melakukan desain ulang ditahap berikutnya.
Tahapan -Tahapan Prototyping
Tahapan-tahapan dalam Prototyping adalah sebagai berikut:
۞ Pengumpulan kebutuhan : Pelanggan dan pengembang bersama-sama mendefinisikan format seluruh perangkat lunak, mengidentifikasikan semua kebutuhan, dan garis besar sistem yang akan dibuat.
۞ Membangun prototyping : Membangun prototyping dengan membuat perancangan sementara yang berfokus pada penyajian kepada pelanggan (misalnya dengan membuat input dan format output).
۞ Evaluasi protoptyping : Evaluasi ini dilakukan oleh pelanggan apakah prototyping yang sudah dibangun sudah sesuai dengan keinginann pelanggan
۞ Mengkodean sistem : Dalam tahap ini prototyping yang sudah di sepakati diterjemahkan ke dalam bahasa pemrograman yang sesuai.
۞ Menguji sistem : Setelah sistem sudah menjadi suatu perangkat lunak yang siap pakai, harus dites dahulu sebelum digunakan. Pengujian ini dilakukan dengan White Box, Black Box,Basis Path, pengujian arsitektur dan lain-lain.
۞ Evaluasi Sistem : Pelanggan mengevaluasi apakah sistem yang sudah jadi sudah sesuai dengan yang diharapkan .
۞ Menggunakan sistem : Perangkat lunak yang telah diuji dan diterima pelanggan siap untuk digunakan.
Keunggulan dan Kelemahan Prototyping
keunggulan prototyping adalah:
* Adanya komunikasi yang baik antara pengembang dan pelanggan
* Pengembang dapat bekerja lebih baik dalam menentukan kebutuhan pelanggan
* Pelanggan berperan aktif dalam pengembangan sistem
* Lebih menghemat waktu dalam pengembangan sistem
* Penerapan menjadi lebih mudah karena pemakai mengetahui apa yang diharapkannya.
kelemahan prototyping adalah :
* Pelanggan kadang tidak melihat atau menyadari bahwa perangkat lunak yang ada belum mencantumkan kualitas perangkat lunak secara keseluruhan dan juga belummemikirkan kemampuan pemeliharaan untuk jangja waktu lama.
* Pengembang biasanya ingin cepat menyelesaikan proyek. Sehingga menggunakanalgoritma dan bahasa pemrograman yang sederhana untuk membuat prototyping lebih cepat selesai tanpa memikirkan lebih lanjut bahwa program tersebut hanya merupakan cetak biru sistem .
* Hubungan pelanggan dengan komputer yang disediakan mungkin tidak mencerminkan teknik perancangan yang baik.
Proses Rapid Prototyping
Proses rapid prototyping diawali dengan validasi model CAD tiga dimensi suatu produk,langkah ini dilakukan untuk memastikan bentuknya solid. Model yang sudah valid kemudian diorientasikan terhadap ruang pembuatan (partsorientation), dengan mempertimbangkan waktu pembuatan dan kualitas permukaan.Beberapa model dapat digabung menjadi satu bangunan asembly untuk efisiensi penggunaan mesin dan material. Berdasarkan pada persyaratan prosesnya, dukungan struktur dapat ditambahkan ke model jika diperlukan. Setelah validasi, kemudian model dipotong dengan bidang horisontal. Tiap bidang horisontal menghasilkan bidang potong sebagai penentu laser trajectory untuk mengontrol proses sintering atau solidifikasi.Langkah utama untuk proses planning termasuk orientasi, generate struktur pendukung jika diperlukan, slicing dan pemilihan parameterproses.Perencanaan proses dilakukan untuk memilih parameter proses dan pembuatan instruksi kontrol untuk fabrikasi produk. Umumnya desainer menyelesaikan perencanaan proses dengan mempelajari produk dan persyaratan kualitas, yang tentunya sangat memakan waktu.
Alasan menggunakan Prototyping
kebutuhan dan syarat sistem terkadang tidak didefinisikan dengan detail, dikarenakan user hanya mengetahui area bisnis yang memerlukan pengembangan atau prosedur yang memerlukan perubahan, atau user mengetahui apa yang dibutuhkan tetapi merasa tidak cukup mengetahui informasi apa yang terkait. Hal lainnya yaitu situasi dimana pihak pengembang tidak mempunyai informasi yang cukup dan juga pengalaman yang memadai mengenai sistem yang akan dikembangkan,dimana sistem tersebut mempunyai risiko dan pembiayaan yang tinggi, maka dengan prototype akan menyediakan informasi mengenai kemampuan kerja dari konsep yang akan dikembangkan.Kenyataannya, prototype merupakan pilot model, perancangannya berkembang melalui penggunaannya, sehingga didesain agar dapat diubah dengan mudah. Informasi yang diperoleh selaama penggunaan prototype, diaplikasikan pada perubahan rancangan yang kemudian dapat digunakan kembali sebagai prototype untuk menghasilkan informasi rancangan yang bernilai lainnya.
Rapid Aplication Development
Model RAD adalah model proses pembangunan perangkat lunak. RAD menekankan pada siklus pembangunan pendek/singkat/cepat. Waktu yang singkat adalah batasan yang penting untuk model ini. Model RAD dapat dicapai dengan menerapkan :
1. Component based construction ( pemrograman berbasis komponen ).
2. Penekanan pada penggunaan ulang (reuse) komponen perangkat lunak yang telah ada.
3. Pembangkitan kode program otomatis/semi otomatis.
4. Multiple team (banyak tim), tiap tim menyelesaikan satu tugas yang selevel tapi tidak sama. Banyaknya tim tergantung dari area dan kompleksitasnya sistem yang dibangun.
Jika keutuhan yang diinginkan pada tahap analisa kebutuhan telah lengkap dan jelas, maka waktu yang dibutuhkan untuk menyelesakan secara lengkap perangkat lunak yang dibuat adalah berkisar 30 sampai 90 hari.
Sistem dibagi-bagi menjadi beberapa modul dan dikerjakan beberapa tim dalam waktu yang hampir bersamaan dalam waktu yang sudah ditentukan. Model ini melibatkan banyak tim, dan setiap tim mengerjakan tugas yang selevel, namun berbeda sesuai dengan pembagian modul system.
Tujuan utama dari semua metode system development adalah memberikan suatu system yang dapat memenuhi harapan dari para pemakai, akan tetapi sering kali di dalam melakukan pengembangan suatu sistem tidak melibatkan para pemakai system secara langsung, sehingga hal ini menyebabkan sistem informasi yang dibuat jauh dari harapan pemakai yang dapat berakibat sistem tersebut walaupun dapat diterima tetapi para pemakai enggan untuk menggunakannya atau bahkan para pemakai menolak untuk menggunakannya.
Beberapa hal ( kelebihan dan kekurangan ) yang perlu diperhatikan dalam implementasi pengembangan menggunakan model RAD :
1. Model RAD memerlukan sumber daya yang cukup besar, terutama untuk proyek dengan skala besar.
2. Model ini cocok untuk proyek dengan skala besar.
3. Model RAD memerlukan komitmen yang kuat antara pengembang dan pemesan, bahkan keduanya bisa tergabung dalam satu tim
4. Kinerja dari perangkat lunak yang dihasilkan dapat menjadi masalah manakala kebutuhan-kebutuhan diawal proses tidak dapat dimodulkan, sehingga pendekatan dengan model ini kurang bagus.
5.Sistem yang tidak bisa dimodularisasi tidak cocok untuk model ini.
6.Penghalusan dan penggabungan dari beberapa tim di akhir proses sangat diperlukan dan ini memerlukan kerja keras.
7. Proyek bisa gagal karena waktu yang disepakati tidak dipenuhi
8. Resiko teknis yang tinggi juga kurang cocok untuk model ini.
Hanya ada tiga tahapan dalam Rapid Application Development:
•Persyaratan perencanaan
Pada tahap ini, pengembang bertemu dengan koordinator atau manager proyek untuk membuat tujuan-tujuan spesifik dari program yang diinginkanStrategi pembangunan dan alat-alat untuk pembangunan juga diungkapkan dalam proyek tertentu. Untuk organisasi bisnis, tahap ini sangat penting karena diproyeksikan untuk bisnis keprihatinan akan diletakkan untuk pertama kalinya. Semuanya dalam tahap ini adalah teori tetapi akan bekerja sama dengan klien atau perusahaan yang membutuhkan software untuk kebutuhan bisnis mereka.
Pada tahap ini, user dan analyst melakukan semacam pertemuan untuk melakukan identifikasi tujuan dari aplikasi atau system dan melakukan identifikasi kebutuhan informasi untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini hal terpenting adalah adanya keterlibatan dari kedua belah pihak, bukan hanya sekedar persetujuan akan proposal yang sudah dibuat. Untuk lebih jauh lagi, keterlibatan user bukan hanya dari satu tingkatan pada suatu organisasi, melainkan beberapa tingkatan organisasi sehingga informasi yang dibutuhkan untuk masingmasing user dapat terpenuhi dengan baik.
• Desain RAD
Ketika rencana telah ada adalah saatnya untuk mulai membangun rencana. menggunakan alat atau mulai memilih model yang akan digunakan berdasarkan kebutuhan bisnis. RAD memerlukan banyak masukan seperti ini juga memerlukan banyak perangkat lunak Setelah sudah memiliki sekumpulan alat untuk membuat program, pengembang hanya akan perlu pembrifingan terhadap para penggunanya. Dalam proses desain harus melibatkan semuanya baik dari user maupun perancang. Adapun hal terpenting adalah bahwa keterlibatan user sangat diperlukan supaya sistem yang dikembangkan dapat memberikan kepuasan kepada user
•Tahap pelaksanaan
Setelah desain dari sistem yang akan dibuat sudah disetujui baik itu oleh user dan analyst, maka pada tahap ini programmer mengembangkan desain menjadi suatu program. Setelah program selesai baik itu sebagian maupun secara keseluruhan, maka dilakukan proses pengujian terhadap program tersebut apakah terdapat kesalahan atau tidak sebelum diaplikasikan pada suatu organisasi. Pada saat ini maka user bias memberikan tanggapan akan sistem yang sudah dibuat serta persetujuan mengenai sistem tersebut.
Keuntungan RAD
RAD mempunyai keuntungan yang dapat disimpulkan sebagai berikut:
• Sangat berguna dilakukan pada kondisi user tidak memahami
kebutuhankebutuhan apa saja yang digunakan pada proses pengembangan
perangkat lunak.
• RAD mengikuti tahapan pengembangan sistem sepeti umumnya, tetapi
mempunyai kemampuan untuk menggunakan kembali komponen yang ada
(reusable object) sehingga pengembang tidak perlu membuat dari awal lagi
dan waktu lebih singkat berkisar antara 60 hari 90 hari.
• Karena mempunyai kemampuan untuk menggunakan komponen yang sudah
ada dan waktu yang lebih singkat maka membuat biaya menjadi lebih rendah
dalam menggunakan RAD
Kondisi – kondisi yang mempengaruhi RAD
• Kondisi Penunjang terhadap keberhasilan RAD adalah sebagai berikut :
• Sistem RAD semuanya berjalan dengan sendiri tergantung usernya.
• Kinerja dari suatu system bukan factor penting, yang terpenting adalah kerja tim..
• Distribusi produk RAD yang mempunyai ruang lingkup yang sempit.
• Ruang lingkup yang terbatas.
• Kehandalan dari sistem bukan faktor terpenting .
• Membutuhkan teknologi yang tidak terlalu baru (lebih dari 1 tahun ) sehingga tehnologi yang lama masih dipakai.
• Sistem dapat dipecah-pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil atau menjadi subsystem-subsytem .
• Kondisi Penghambat terhadap keberhasilan RAD adalah sebagai berikut :
• Sistem harus dapat berjalan secara bersamaan dengan sistem yang lama otomatis komponen-komponen yang digunakan masih menggunakan yang lama.
• Komponen-komponen penunjang sangat langka untuk didapatkan karena hard ware maupun soft ware masih menggunakan produk lama.
• Dibutuhkan kinerja yang optimal dari pada sisitem tersebut, jika salah satu system tidak optimal maka hancurlah semuanya.
• Apabila digunakan untuk membuat sistem operasi, dimana membutuhkan sistem yang handal. Sistem tidak dapat dipecah-pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil tidak bisa bekerja sendiri-sendiri.
implementasi
Berikut ini Contoh dari pembuatan system menggunakan Rapid Application Develoopment Methodology :
Pembuatan website mcommerce
(mobile commerce) untuk mempermudah proses penyewaan kendaraan mobil pada suatu badan usaha. Pengembangan sistem mcommerce ini menggunakan metode Rapid Application Development (RAD), dengan demikian siklus pembangunan perangkat lunak menjadi lebih pendek atau singkat. Penerapan sistem mcommerce ini menggunakan arsitektur yang berbasis Wireless Application Protocol (WAP) sehingga website dapat diakses dari telepon seluler (ponsel) melalui browser.
KESIMPULAN
Rapid Application Development lebih dari sekedar menyelesaikan aplikasi secepat
mungkin. James Martin yang dimaksudkan sebagai pendekatan mendefinisikan dengan baik
untuk pengembangan aplikasi yang melibatkan, siklus pendek pengembangan berulang
seperti timeboxing, prototyping, dan penggunaan teknologi modern untuk melihat persyaratan kebutuhan secara langsung kemudian ditangkap ke dalam aplikasi yang bekerja
menggunakan generasi kode atau teknologi serupa . Pendekatan ini berlaku sekarang sama
seperti pada tahun 1980an,hanya artinya telah agak tertutup oleh pemasaran modern.
Bussiness process re_enginaring
Business Process Reengineering adalah metode yang mulai digunakan sekitar tahun 1995 oleh para praktisi dan merupakan hal yang paling penting kedua dalam manajemen teknologi informasi. Teknologi Informasi merupakan pendukung utama dalam metode ini. Teknologi Informasi merupakan pengembangan dari teknologi computer yang dipadukan dengan teknologi telekomunikasi.
Menggunakan Teknologi Informasi mempunyai metode dalam cara berpikir, yaitu secara induktif mengembangkan kemampuan untuk mengenali cara solusi yang tepat dan kemudian baru mencari jenis masalah apa yang dapat dipecahkan dengan solusi tersebut. Oleh karena itu Teknologi Informasi sering disebut sebagai disruptive technology karena kemampuannya dalam memecahkan masalah atau mengubah aturan lama yang menghalangi orang untuk melakukan pekerjaannya sehingga Teknologi Informasi sangat penting untuk di- reengineering.
Hubungan antara BPR dengan Teknologi Informasi
Hammer (1990) mempertimbangkan bahwa teknologi informasi adlah kunci dari pelaksanaan BPR yang disebut perubahan radikal. Penggunaan informasi teknologi menantang asumsi dalam proses kerja yang sudah ada sejak lama sebelum penemuan komputewr modern dan teknologi komunikasi. Inti dari rekayasa ulang adalah pengenalan dan dan pembaharuan dalam aturan lama dan asumsi fundamental pokok dalam operasi. Aturan perancangan kerja ini berdasarkan asumsi tentang teknologi, orang, dan tujuan organisasi.
Prinsip dari perancangan ulang (redesign) adalah :
(a) Merorganisir hasil, bukan tugas
(b) Memiliki siapa yang menggunakan output dari performa proses
(c) Memasukkan kerja proses informasi ke dalam kerja yang yang sesungguhnya yang menghasilkan informasi
(d) Memperlakukan sumber daya yang tersebar sebagai sumber daya yang terkumpul
(e) Menghubungkan aktivitas parallel untuk mengintegrasikan hasilnya
(f) Meletakkan titik keputusan dimana kerja dilakukan dan membangun pengawasan dalam proses
(g) Menangkap informasi pada waktu tertentu dan sumber
BPR memerlukan pandangan yang luas baik dari teknologi informasi maupun aktivitas bisnis, dan hubungan diantara mereka. Teknologi informasi seharusnya di tampilkan lebih dari usaha otomatis dan mekanis, dijadikan sebagai hal yang fundamental pembentukan ulang jalur bisnis.
Aktivitas bisnis seharusnya dapat ditampilkan melebihi pengumpulan individe atau tugas fungsional, di dalam tampilan proses untuk efektivitas maksimal. Teknologi informasi dan BPR memiliki hubungan yang berulang-ulang. Kemampuan teknologi informasi sebaiknya dapat mendukung proses bisnis, dan proses bisnis sebaiknya berada dalam batas kemampuan teknologi informasi yang bisa diberikan.
Inovasi membutuhkan teknologi informasi pada perusahaan untuk membangun strukur baru yang dapat mengkoordinasikan segala aktivitas yang tidak memungkinkan sebelumnya. Kordinasi yang itensif dapat mengangkat kemapuan organisasi dan tanggung jawab, dan mengarahkan pasa keuntungan strategi potensial.
APLIKASI BPR PADA PERUSAHAAN
Dapat kita ambil contoh pada perusahaan yang bergerak pada industri minyak bernama Oileap Corp. yang banyak memanfaatkan Teknologi Informasi pada proses distribusi minyak.
Kapabilitas infrastruktur Teknologi Informasi dinilai dengan menggunakan 3 metode pengukuran, yaitu:
• Pelayanan infrastruktur perusahan
Semakin banyak servis yang dilakukan oleh suatu perusahaan maka semakin tinggi kapabilitas infrastruktur firm-wide services dari perusahaan.
• Ketentuan Pelayanan infrastruktur antar fungsional
Merupakan infrastruktur yang bersifat integrative dan mendukung terciptanya arus informasi antara suatu area fungsional dengan area fungsional lainnya. Biasanya servis ini digunakan atau mempengaruhi aplikasi yang digunakan di-dalam perusahaan.
• Jangkauan dan jarak perusahaan
Menunjukkan cakupan bisnis dari firm-wide infrastructure, yaitu menunjukkan servis seperti apa saja yang dapat dilakukan dan kepada siapa servis tersebut dapat dilakukan.
Latar belakang dan Pelaksanaan BPR
Business process Re-design pada perusahaan minyak ini dibagi atas 4 bagian :
• Konteks bisnis
• Perubahan proses
• Kemampuan dan investasi infrastruktur
• Hubungan antara kemampuan infrastruktur dan BPR
(a) Konteks Bisnis
Penggerak bisnis perusahaan ini dilakukan melalui penyediaan pelayanan mobile-customer, merespon segala tahapan dari value-chain, karakteristik tersendiri pada kualitas dan pelayanan. Sedangkan motivasi untuk BPR sendiri antara lain untuk kebutuhan yang berkelanjutan demi pengurangan biaya, penambahan keuntungan secara drastis setelah pelaksanaan, pemikiran ulang terhadap inti bisnis, dan mendongkrak investasi infrastrukur.
(b) Perubahan proses
Proses yang dilibatkan dalam BPR ini antara lain pelayanan financial, pengelolaan investasi, pengembangan system, dan implementasi semua proses baru berdasarkan peta proses yang detail. Dan pengaruhnya pada bisnis antaralain; pengembangan pelayanan berdasarkan pemasukan secara cepat, percepatan pengembangan system informasi bisnis, serta kesempatan bisnis yang baru. Jangka perubahan berkisar antara 2 tahun.
(c)Kemampuan dan investasi infrastruktur
Bagian ini mencakup investasi infrastruktur utama melalui pembaruan segala system selama 1 tahun, pemberlakuan DBMS yang umum, meningkatkan telekomunikasi, pendukung pelayanan untuk pengambangan system baru, dan system manajemen proyek yang umum digunakan. Jumlah pelayanan pada tingkat tinggi dan terdapat 7 pelayanan antar fungsional dengan jangkauan dan jarak yang tinggi.
(d) Hubungan antara kemampuan infrastruktur dan BPR
Hubungan antara kempuan infrastruktur dan BPR ditunjukkan dari peranan infrastruktur yang memasukkan infrastruktur teknologi informasi baru dan mendongkrak perubahan proses dari kemampuan infrastruktur. Sedangkan pengaruh dari teknologi informasi terhadap kemampuan infrastrutur yaitu sangat memungkinkan dimana perubahan bisnis dimanfaatkan dalam kemampuan infrastruktur.
Hasil dan Kesimpulan
Dari hasil analisis, penerapan BPR pada perusahaan minyak ini menunjukkan bahwa infrastruktur teknologi informasi menyediakan kerangka dasar dalam menstimulasi dan memungkinkan implementasi proses bisnis baru yang radikal.
Dari analisa perusahaan ini didapatkan hasil sebagai berikut:
1. Perusahaan ini memiliki kemampuan infrastrukur yang mengikuti implementasi BPR. Hal ini dikarenakan perusahaan telah memiliki infrastruktur-infrastruktur penting seperti communication network.
2. Perusahaan ini memiliki pengalaman dalam menciptakan kemampuan lintas batas fungsional. Hal ini sangat membantu, karena BPR memiliki sifat dasar cross-functional.
3. Jarak infrastruktus yang melintasi batas unit bisnis sangat diperlukan dalam BPR. Perusahaan yang sukses dalam mengimplementasikan BPR adalah perusahaan yang memiliki infrastruktur yang dapat membantu dalam melaksanakan transaksi yang rumit antara suatu unit bisnis dengan unit bisnis lainnya.
4. Penyederhanaan proses memerlukan sedikit kemampuan infrastruktur karena perubahan proses terbatas dalam suatu lingkup. Hal ini dikarenakan dari data yang diperoleh, simplifikasi yang terjadi pada BPR hanya membutuhkan tipe data dan aplikasi yang tidak terlalu banyak yang mengakibatkan infrastruktur yang dibutuhkan tidak terlalu banyak pula.
5. Inovasi padaproses memerlukan lebih banyak kemampuan infrastruktur karena perubahan proses lebih meresap antar perusahaan. Hal ini dikarenakan diperlukan data dan aplikasi yang lebih banyak.
6. Kemampuan infrastruktur memliki pengaruh pada keberhasilan implementasi BPR. Dari data yang didapatkan, perusahaan ini tidak mengalami kesulitan dalam mengimplementasikan BPR karena memiliki kapabilitas infrastruktur yang lebih lengkap. Selain itu kapabilitas infrastruktur yang dimiliki telah dapat mendukung dalam menciptakan bisnis proses baru yang radikal.
7. Kapabilitas infrastruktur TI yang semakin baik memungkinkan terjadinya implementasi BPR yang semakin baik pula.
Senin, 26 Desember 2011
Diposting oleh
sophieAziez
di
23.14
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar